Search This Blog

Sunday, August 01, 2004

SELAPUT DARA: ANTARA MITOS DAN FAKTA

SELAPUT DARA: ANTARA MITOS DAN FAKTA
Seorang laki-laki muda bertanya pada dokter yang mengasuh rubrik kesehatan di sebuah website. "Dok, mengapa di malam pertama istri saya tidak mengeluarkan darah ya? Apakah istri saya sudah tidak perawan?" Jawaban sang dokter ternyata sangat menarik. Ia memulainya dengan kalimat, "Berapa liter darah yang Anda butuhkan untuk meyakinkan diri bahwa istri Anda masih perawan?" Selanjutnya dokter itu menjelaskan bahwa robeknya selaput dara tidak harus ditandai dengan perdarahan.


Selaput dara atau dalam bahasa medisnya dikenal sebagai hymen, adalah membran tipis yang sebenarnya secara biologis tidak berfungsi namun mempunyai beban kultural dan psikologis yang sangat berat bagi wanita. Utuh tidaknya selaput ini akan menentukan langgeng tidaknya ikatan perkawinan bagi sebagian orang. Ditambah lagi pemahaman banyak orang mengenai selaput dara yang cenderung berbau mitos ketimbang faktanya. Apa saja yang perlu diketahui tentang selaput dara?


TIDAK SELALU DITANDAI PERDARAHAN

MITOS darah di malam pertama sepertinya menjadi sebuah ritual sakral yang bisa menentukan tinggi-rendahnya martabat seorang perempuan. Kalau tidak keluar darah berarti sudah tidak perawan, kalau tidak perawan berarti bukan perempuan baik-baik. Waduh!

Padahal faktanya secara medis, robeknya selaput dara tidak harus diikuti dengan keluarnya bercak darah. Ada beberapa faktor yang menjadi penyebabnya.

* Terlalu rapuh

Bisa jadi selaput dara itu sudah robek sebelumnya karena terlalu rapuh. Beberapa jenis olahraga seperti berkuda, bela diri, bersepeda dan sebagainya bisa menjadi penyebab robeknya selaput dara. Apalagi kalau selaput daranya termasuk jenis yang rapuh.

* Kelewat elastis

Tidak adanya bercak darah di malam pertama mungkin saja disebabkan belum robeknya selaput dara karena sifatnya sangat elastis. Harap diketahui, membran ini sangat fleksibel. Pada beberapa kasus ditemukan bahwa elastisitas selaput dara memungkinkannya tidak robek pada waktu pertama kali berhubungan seksual. Bahkan ada yang baru koyak setelah wanita tersebut melahirkan!

* Darah tidak banyak

Atau bisa saja sebenarnya keluar bercak darah, tapi karena sangat sedikit sehingga tidak mudah terlihat oleh mata. Banyak orang yang mengira kalau selaput dara robek akan keluar banyak darah. Padahal karena sedemikian tipisnya, selaput dara yang robek tidak selalu menyebabkan keluar darah dalam jumlah banyak.

* Tidak punya selaput dara

Perkembangan teknologi memungkinkan dilakukannya penelitian tentang selaput dara secara mendalam. Hasilnya ternyata sangat mengejutkan karena dalam penelitian yang dilakukan para seksolog ditemukan beberapa perempuan yang sejak lahir memang tidak memiliki membran ini. Pada kasus ini keberadaan selaput dara tidak selalu membuktikan bahwa perempuan belum pernah melakukan hubungan seksual masih teruji kegadisannya.
MACAM-MACAM BENTUK SELAPUT DARA

TERNYATA tidak hanya tubuh yang bisa dilihat bentuknya, selaput dara pun mempunyai bentuk dengan derajat kelembutan dan fleksibilitas yang berbeda-beda. Semuanya bersifat individual, seperti penelitian yang dilakukan Frank H. Netter, MD., yang termuat dalam bukunya The Human Sexuality. Menurutnya ada bermacam bentuk selaput dara, yaitu:

- Annular Hymen, selaput melingkari lubang vagina.

- Septate Hymen, selaput yang ditandai dengan beberapa lubang yang terbuka.

- Cibriform Hymen, selaput ini juga ditandai beberapa lubang yang terbuka, tapi lebih kecil dan jumlahnya lebih banyak.

- Introitus, pada perempuan yang sangat berpengalaman dalam berhubungan seksual, bisa saja lubang selaputnya membesar, namun masih menyisakan jaringan selaput dara.

KEPERAWANAN = KEPERCAYAAN

DENGAN diketahuinya berbagai bentuk selaput dara seperti di atas, maka hilangnya keperawanan di malam pertama yang tidak didahului dengan keluarnya bercak darah menjadi semakin jelas. Walaupun perdarahan di malam pertama bisa menjadi bukti bahwa wanita tersebut masih perawan (virgin), tapi tidak tertutup kemungkinan beberapa wanita yang lihai dan sangat berpengalaman dalam berhubungan seksual, masih tetap mengeluarkan bercak darah karena sisa selaput dara yang terluka, sehingga ia terkesan masih virgin.

Pendek kata, keperawanan adalah masalah kepercayaan. Seorang wanita yang selaput daranya robek karena olahraga dan tidak mengeluarkan darah di malam pertama, apakah bisa dicap sudah tidak gadis lagi? Sedangkan di sisi lain, ada wanita yang "lebih beruntung", walaupun sudah berhubungan seksual berulang kali namun di malam pertama masih keluar darah karena adanya sisa selaput dara yang terluka. Apakah adil pelabelan perawan dan tidak perawan pada kasus di atas. Sekali lagi, keperawanan adalah masalah kepercayaan.
Bila kehidupan rumah tangga sudah sedemikian bahagianya, apalagi dengan hadirnya sang buah hati, masih memusingkan darah yang tidak "tertumpah" di malam pertama? Mitos tentang selaput dara memang tidak semuanya sesuai fakta.

Marfuah Panji Astuti. Ilustrator: Pugoeh


MA, AKU INGIN SEPERTI TEMANKU!

MA, AKU INGIN SEPERTI TEMANKU!
"Ma, aku paling senang sama Yuli. Dia baik. Suka kasih aku kue. Kemarin Yuli beli boneka. Bagus deh, Ma. Beliin aku boneka seperti kepunyaan Yuli ya Ma," ujar Nita (5) pada ibundanya, Diana.

Sebenarnya bagi ibu Diana, soal membelikan boneka itu bukan masalah besar, hanya saja Nita begitu mengidolakan Yuli. Sedikit-sedikit Yuli. Baju yang dipakai Nita harus mirip Yuli, ikat kepang rambutnya mesti persis milik Yuli juga. Sampai ya itu tadi bonekanya pun minta dibelikan seperti punya Yuli. Itulah yang membuat Ibu Diana bingung.

Menurut Rozamon Anwar, Psi., tingkah laku si prasekolah yang mengidolakan teman merupakan hal wajar. Di usia menjelang 5 tahun kemampuan bersosialisasi anak semakin berkembang. Dia berkenalan dengan banyak teman, baik di sekolah (TK) maupun di lingkungan rumahnya. Jadi sah-sah saja kalau si kecil memilih teman bermain yang dianggapnya cocok. Sewajar bila ia kemudian mengidolakan teman yang disukainya itu.

Pada umumnya, teman yang menjadi idola anak memiliki kelebihan ataupun daya tarik tertentu bagi si kecil. Misalnya, enak diajak berteman, suka memberi, suka membantu, tidak nakal, tidak jahil, pintar, dan sebagainya. "Intinya ia dan sang idola dapat menjalin kerja sama dengan baik sehingga aktivitas bermainnya begitu menyenangkan dan membuatnya nyaman. Tak ada yang namanya jahil-jahilan," papar psikolog dari RSIA Hermina Depok ini.

Lalu kenapa kok si kecil sampai meniru-niru semua yang dilakukan sang idola? Sekali lagi, psikolog yang akrab disapa Oche ini menyatakan, hal itu tidak aneh. Setiap anak akan mencari model peniruan dari orang yang memiliki hubungan dekat dengannya. Nah, karena frekuensi bermainnya dengan sang idola begitu sering dan hubungan pertemanan mereka terjalin akrab, akhirnya semua perbuatannya ditiru. Misalnya, ketika sang idola mewarnai gambar dengan pensil warna hijau, si anak ikut meniru menggunakan pensil dengan warna yang sama. Contoh lain, anak juga ingin mempunyai benda-benda, mainan atau boneka yang sama yang dipunyai oleh sang idola. Atau saat teman idolanya itu diganggu anak lain, dia pun ikut-ikutan marah dan membelanya. Sebaliknya, ketika sang teman senang, dia pun merasa senang, dan sebagainya

WASPADAI DAMPAK BURUK

Masalahnya, walau mengidolakan teman merupakan hal wajar, Oche mengajak orang tua untuk tetap mewaspadai dampak negatif yang mungkin muncul, yakni:

* Anak menjadi "plagiator"

Kalau dia selalu berusaha menjadi seperti idolanya; baik dari sikap, perilaku, aktivitas dan kepemilikan sang idola ditiru, alhasil, ia takkan berani mengungkapkan jati dirinya karena selalu menjadi bayang-bayang sang idola. Dia pun tak yakin akan kemampuan atau kelebihannya sendiri. Dia hanya menjadi seorang plagiator.

* Selalu "mengekor"

Sang anak selalu "mengekor" kemanapun idolanya pergi. Kalaupun sang idola tak mengajaknya, dia akan menguntit atau mengikuti sang idola. Akibatnya, anak akan selalu ragu-ragu untuk bersikap. Dia juga tak mampu menunjukkan atau mengeluarkan pendapatnya sendiri.

* Meniru perilaku buruk

Perlu diketahui, perilaku dan sikap anak sangat dipengaruhi oleh lingkungannya. Dalam konteks ini, teman yang menjadi idola dapat pula mempengaruhi atau bahkan mengubah perilaku anak. Mungkin saja, anak yang tadinya selalu bersikap manis berubah menjadi galak dan suka marah, sering membantah orang tua, agresif, suka mengumpat, dan sebagainya. Contoh lainnya, anak yang semula ceria menjadi mudah tersinggung dan sering uring-uringan. Atau anak yang tadinya terkesan pemalu berubah menjadi jahil dan nakal tak ketulungan. Syukur-syukur kalau sang anak berubah menjadi anak yang lebih bisa sikap baik karena pengaruh temannya itu. Misalnya, yang tadinya pendiam menjadi penuh percaya diri dan sebagainya.

* Mudah disuruh-suruh

Jika anak selalu mengikuti apa yang dikatakan teman idolanya, bisa jadi ia mudah disuruh-suruh. Awalnya anak dengan sukarela mau "membantu' temannya itu. Misalnya, sang teman menyuruh membelikan kue. Namun, karena keseringan disuruh-disuruh jadinya si anak terkesan dimanfaatkan atau bahkan diperintah dengan cara paksa. "Ayo dong, beliin aku permen, kalau enggak mau, aku enggak mau temenan lagi sama kamu!"

* Mudah dibujuk/dihasut

Anak menjadi mudah dibujuk atau bahkan dihasut oleh sang idolanya untuk hal-hal yang tidak benar. Misalnya, anak dibujuk untuk berbohong pada orang tuanya; dihasut agar memusuhi teman lainnya; atau dihasut agar memukul teman lainnya. Jadi, "kepolosan" sang anak disalahgunakan untuk melakukan sesuatu yang negatif.

PENANGANAN

Nah, berikut ini langkah-langkah yang bisa dilakukan orang tua untuk mengantisipasi agar anak tidak mudah terpengaruh sikap atau perilaku negatif teman idolanya:

* Mengenal teman bermain anak

Kenali dengan siapa saja anak bermain. Lalu komunikasikan pendapat orang tua mengenai teman-teman anak. Jika si kecil bertanya, "Bu, Sarah baik, kan?" Jelaskan mulai dari hal positif. "Oh iya, dia suka membantu orang lain." Kemudian lanjutkan pula dengan hal-hal lain yang perlu diketahui anak. "Tapi Sarah juga suka menyuruh-nyuruh temannya. Itu sikap yang kurang baik. Kamu jangan mengikuti perilaku seperti itu, ya."

* Tidak mengidolakan teman secara berlebihan

Beri tahu anak agar tidak mengidolakan temannya secara berlebihan. Maksudnya, boleh-boleh saja berteman tapi jangan sampai semua kemauannya dituruti atau tingkah lakunya ditiru. Apalagi sikap atau perilakunya yang negatif. Awalnya mungkin anak terkesan oleh sikap sang teman yang begitu baik. Namun, jika suatu saat anak mendapati sang idola berbuat buruk tentunya anak menjadi kecewa juga. Jadi tetaplah proporsional.

Ajarkan anak untuk berteman dengan siapa saja. Boleh mengidolakan teman tetapi perhatikan juga apakah memang terbukti ia patut dijadikan idola. Kalau pilihannya sudah tepat, mungkin anak secara tak langsung bisa "tertular" memiliki sikap atau perilaku yang baik seperti idolanya itu. Jika anak telanjur meniru perbuatan buruk, misalnya menjadi suka berbohong, jelaskan kepadanya bahwa perilaku itu tidak boleh dilakukan lagi. "Nak, bohong itu tak baik. Jangan dilakukan lagi ya."

* Mengajarkan bersikap positif

Ajarkan dia untuk memiliki sikap berani berpendapat. Jadi ketika dia punya teman yang berperilaku buruk kemungkinan tidak mudah "terkontaminasi"; tak mudah disuruh-suruh dan bisa membedakan mana permintaan tolong dan mana yang berupa perintah dalam arti menyuruh. Tanamkan padanya untuk mampu berkata "tidak!" saat diajak berbuat buruk bahkan kalau bisa justru "meluruskan" temannya. "Sarah, kata ibuku berbohong itu tak baik," contohnya.

* Terus menambah teman

Ajari anak untuk tidak takut kehilangan teman karena teman bisa dicari. Dukung ia untuk selalu menambah teman. Jadi jika sang idola jelas-jelas membawa pengaruh buruk baginya, dan si kecil sudah enggan bermain dengan si idola, tetapkan hatinya untuk menjauhi sang idola.

* Orang tua menjadi panutan

Jadilah contoh atau panutan positif bagi anak. Umpamanya, dengan suka membantu orang lain, mengajarkan sopan-santun, atau tidak bicara kasar. Alhasil, anak akan menjadikan perilaku baik itu sebagai kebiasaan. Toh, kalau anak sudah terbiasa berbuat baik karena meniru orang tuanya, maka ia tak mudah mengikuti perilaku buruk teman idolanya. Justru diharapkan anak dapat mengajarkan teman-temannya untuk berbuat baik dan menjadi idola dan model yang baik bagi teman-temannya.

DAMPAK BAGI SANG IDOLA

Menurut Oche, sang idola bisa juga mendapat imbas negatif akibat pengidolaan terhadap dirinya, yaitu:

* Jadi bossy/suka memerintah

Ia jadi terbiasa mengatur atau memerintah teman-temannya. Awalnya mungkin sekadar meminta bantuan atau pertolongan. Lama-kelamaan karena keenakan akhirnya ia jadi keseringan perintah sana-perintah sini. Kebiasaan itu bisa terus berlanjut hingga akhirnya "para relawannya" sadar dan merasa diperalat sehingga tak mau menemaninya lagi.

* Menjadi sombong

Karena merasa dirinya sosok yang "dikagumi" teman, anak menjadi haus pujian. Dia ingin selalu dianggap paling pintar atau superhebat. Dia merasa layak dipuja-puji dan diperlakukan istimewa dibandingkan teman-teman lainnya. Akibatnya dia menjadi sosok yang sombong atau angkuh.

* Ingin menang sendiri

Dia merasa dirinyalah yang paling benar dan semua temannya itu salah. Bahkan, kalau ada teman yang tak menyukainya, ia akan balas dengan membencinya.

* Merasa tertekan

Sang idola bisa saja merasa tertekan karena selalu dianggap sebagai orang yang memiliki kelebihan. Padahal, ia juga manusia biasa yang punya kekurangan. Namun karena ia tak ingin teman-temannya tahu sisi kelemahannya, akhirnya, dia selalu berusaha tampil hebat. Sementara, kelemahannya selalu ditutup-tutupi. Dengan kata lain, anak tak berusaha menjadi dirinya sendiri. Oleh karena itulah dia merasa tertekan karena dituntut menjadi sosok yang sebenarnya bukan dirinya. Apalagi kalau para orang tua teman-temannya ikut memuji sikap dan perilaku dia.
Hilman Hilmansyah. Ilustrator: Pugoeh

WASPADAI BENJOLAN DI LIPAT PAHA DAN PUSAR

WASPADAI BENJOLAN DI LIPAT PAHA DAN PUSAR
Munculnya benjolan tersebut bisa saja menjadi tanda bahwa bayi menderita hernia.

Banyak masyarakat yang masih menyangka kalau hernia hanya menyerang orang dewasa terutama manula. Padahal si kecil yang masih bayi bisa juga mengalaminya. Kasus bayi hernia bahkan tercatat cukup banyak. Dikatakan pula oleh dr. Cosmas Gora Triaswhoro, Sp.B., meski namanya terkesan cukup indah, hernia ternyata dapat menimbulkan bahaya. Bila terus didiamkan tanpa penanganan tepat, bahkan dapat menimbulkan komplikasi yang berat sampai kematian.

Selanjutnya, spesialis bedah dari RS Mitra International Jakarta ini menambahkan, hernia merupakan bentuk penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau suatu bagian yang lemah dari dinding rongga yang bersangkutan. Bila terjadi di perut, isi perut dapat menonjol melalui bagian yang lemah. Kebanyakan organ yang menonjol adalah usus.

Hernia bukanlah penyakit turunan. Proses terjadinya hernia pada bayi berbeda dengan hernia pada orang dewasa yang biasanya terjadi karena kelemahan otot dinding perut. Sedangkan pada bayi, hernia yang terjadi di daerah perut akibat penyakit bawaan atau kongenital.

Secara umum ada dua jenis hernia, yaitu internal dan eksternal.

* Hernia internal berada dalam tubuh dan tidak bisa dilihat secara kasat mata. Contohnya hernia diafragmatika dimana hernia terjadi akibat adanya celah di diafragma (otot pemisah antara bagian perut dengan dada) karena pembentukan diafragma yang tidak sempurna. Contoh lainnya adalah hernia hiatal esofagus, yaitu hernia terjadi melalui celah masuknya esofagus yang masuk dari rongga dada, serta banyak lagi jenis lainnya.

* Hernia eksternal. Dari jenis hernia ini yang paling sering dijumpai adalah hernia inguinalis yang muncul di lipat paha dan hernia umbilikalis yang muncul di daerah pusar. Bayi umumnya mengalami hernia eksternal yang bisa dideteksi secara kasat mata karena terlihat secara langsung.

Proses terjadinya hernia eksternal pada bayi umumnya disebabkan penyakit kongenital, yakni penyakit yang muncul ketika bayi dalam kandungan dan umumnya tidak diketahui penyebabnya. Secara umum bayi laki-laki lebih sering mengalami hernia dibandingkan perempuan karena proses penurunan testis/buah pelir yang merupakan organ reproduksinya berlangsung lebih kompleks.

Hernia pun lebih sering terjadi pada bayi prematur, sebab pada saat kelahirannya proses penurunan testis dan pembentukan ligamen belum sempurna.

Hernia inguinalis:

* Pada bayi laki-laki terjadi karena kegagalan proses penutupan kantung yang menutupi testis. Ketika di dalam kandungan, testis turun dari bagian perut ke bawah dan berhenti sesampainya di skrotum (kantung pelir). Proses penurunan ini dimulai waktu bayi masih berada dalam kandungan. Ketika turun, testis akan membawa selaput dari perut ke bawah sehingga membentuk kantung. Ketika lahir cukup bulan, umumnya proses perpindahan testis ini sudah selesai. Namun pada beberapa bayi, proses penutupan hingga menjadi ligamentum (jaringan ikat) tidak berjalan sempurna yang akhirnya menyisakan lubang. Nah, lubang inilah yang nantinya bisa menimbulkan herniasi. Bila hanya berisi cairan saja disebut hidrocele. "Pada hernia inguinalis, paling sering ditemukan di sebelah kanan, sekitar 67 persen, sisanya sebelah kiri," jelas Cosmas.

* Pada bayi perempuan hernia terjadi melalui proses seperti ini: seperti halnya bayi laki-laki, bayi perempuan pun mengalami proses pembentukan organ tubuh bagian bawah yang hampir sama. Namun, bila laki-laki mengalami proses penurunan testis, maka perempuan tidak.

Hernia umbilikus:

Pada bayi laki-laki dan perempuan hernia umbilikus terjadi bila penutupan umbilikus (bekas tali pusar) tidak sempurna. Seharusnya, bila penutupan membuat umbilikalis tetap terbuka. Bila hal ini terjadi, tentu akan menyisakan lubang sehingga usus bisa keluar masuk ke daerah tersebut.
CARA MENDETEKSI

* Merasakan tonjolan

Yang perlu diketahui, awam hanya dapat mendeteksi hernia eksternal, karena hernia internal terjadi dalam tubuh dan sulit dideteksi. Mendeteksi keberadaan hernia pada orang dewasa juga jelas lebih mudah ketimbang pada bayi. Ketika buang air misalnya, orang dewasa bisa merasakan adanya tonjolan di bagian perut yang umumnya lebih terasa. Namun pada bayi, meskipun terasa ada yang tidak nyaman pada tubuhnya, ia tidak bisa mengungkapkannya dengan jelas.

Itulah mengapa hernia pada bayi lebih sulit dideteksi sehingga memerlukan ketelitian orang tua. Walaupun sulit, lihat dan rabalah bagian lipat paha atau pusar si bayi. Hernia eksternal umumnya akan diketahui dari munculnya benjolan di bagian tersebut.

* Mengamati gejala

Gejala klinis yang biasa muncul tak berbeda jauh dari penyakit-penyakit pada umumnya, seperti mual muntah, susah makan, dan tubuh demam. Lantaran itulah, Cosmas mengimbau orang tua agar segera membawa bayinya ke dokter saat melihat gejala-gejala tadi, agar diagnosa penyakit si kecil dapat segera ditegakkan.
Gejala khususnya muncul berdasarkan berat-ringan hernia:

1. Reponible: Benjolan di daerah lipat paha atau umbilikus tampak keluar masuk (kadang-kadang terlihat menonjol, kadang-kadang tidak). Benjolan ini membedakan hernia dari tumor yang umumnya menetap. Ini adalah tanda yang paling sederhana dan ringan yang bisa dilihat dari hernia eksternal. Bisa dilihat secara kasat mata dan diraba, bagian lipat paha dan umbilikus akan terasa besar sebelah. Sedangkan pada bayi wanita, seringkali ditemukan bahwa labianya besar sebelah. Labia adalah bagian terluar dari alat kelamin perempuan.

2. Irreponible: benjolan yang ada sudah menetap, baik di lipat paha maupun di daerah pusat. Pada hernia inguinalis misalnya, air atau usus atau omentum (penggantungan usus) masuk ke dalam rongga yang terbuka kemudian terjepit dan tidak bisa keluar lagi. Di fase ini, meskipun benjolan sudah lebih menetap tapi belum ada tanda-tanda perubahan klinis pada anak.

3. Incarcerata, benjolan sudah semakin menetap karena sudah terjadi sumbatan pada saluran makanan sudah terjadi di bagian tersebut. Tak hanya benjolan, keadaan klinis bayi pun mulai berubah dengan munculnya mual, muntah, perut kembung, tidak bisa buang air besar, dan tidak mau makan.

4. Strangulata, ini adalah tingkatan hernia yang paling parah karena pembuluh darah sudah terjepit. Selain benjolan dan gejala klinis pada tingkatan incarcerata, gejala lain juga muncul, seperti demam dan dehidrasi. Bila terus didiamkan lama-lama pembuluh darah di daerah tersebut akan mati dan akan terjadi penimbunan racun yang kemudian akan menyebar ke pembuluh darah. Sebagai akibatnya, akan terjadi sepsis yaitu beredarnya kuman dan toxin di dalam darah yang dapat mengancam nyawa si bayi. Sangat mungkin bayi tidak akan bisa tenang karena merasakan nyeri yang luar biasa.

MENANGANI HERNIA

Berhubung proses peningkatan dari satu fase ke fase berikutnya terjadi cukup cepat, Cosmas menyarankan, bawalah segera bayi Anda ke dokter begitu terlihat gejala awal hernia. Bila memang positif, meskipun masih sangat ringan, bayi harus segera dioperasi untuk mencegah tahap gangguan yang lebih berat. "Operasi yang biasa dilakukan adalah herniotomi untuk memotong kantung hernia kemudian diikat," kata Cosmas.

Namun sebelumnya, saat pemeriksaan, dokter akan melakukan palpasi atau meraba isi hernia dengan ujung jarinya, apakah masih dapat dimasukkan kembali ke dalam perut atau tidak.

Meskipun kejadiannya jarang, setelah operasi sebaiknya waspadai kemungkinan kambuhnya hernia. Bila kekambuhan terjadi dalam beberapa bulan atau setahun, hal ini mungkin merupakan akibat dari pembedahan yang dilakukan. Namun kemungkinan kambuhan akibat kesalahan teknis sangat kecil.

Irfan Hasuki. Ilustrator: Pugoeh

DARI MINAMATA KE MINAHASA

DARI MINAMATA KE MINAHASA
Belajarlah dari kasus Minamata karena tragedi serupa sepertinya kini terjadi di tanah air kita. Buktinya, masyarakat di sekitar Teluk Buyat, Sulawesi Utara menderita penyakit misterius yang mirip dengan penyakit mengenaskan di Teluk Minamata, Jepang beberapa dekade silam.


Dr. Jane M. Pangemanan, M.Kes., benar-benar terkejut saat memeriksa kondisi sekitar 100 orang warga Teluk Buyat. Ternyata, 80 persen di antaranya mengalami gejala penyakit yang sama; sering kram, sakit kepala, gatal-gatal, dan tumbuh benjolan di beberapa bagian tubuhnya. "Saat itu saya berpikir, sepertinya ada suatu pola penyakit yang dialami masyarakat di sana," kata dosen Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado ini.

Merasa penasaran, Jane lalu menelusuri berbagai literatur untuk mencari perbandingan. Singkat cerita, ditemukanlah informasi tentang kasus Minamata. Setelah ditelaah lebih jauh ternyata gejala-gejala yang dialami warga tepi pantai itu mirip dengan peristiwa di Jepang yang terjadi sekitar tahun 1960-an. Adalah pencemaran dari logam berat yang diduga kuat menjadi penyebabnya. Seperti diketahui, di Sulawesi Utara terdapat proyek penambangan emas yang dikelola oleh PT Newmont Minahasa Raya. Di sisi lain, masyarakat di sana juga melakukan penambangan sendiri yang sudah terjadi sejak 50 tahun lalu.

Kecurigaan senada dilontarkan pula oleh Budi Haryanto, SKM, MSPH, MSc. Menurutnya, penyakit tersebut mungkin berasal dari ikan-ikan yang dikonsumsi masyarakat di sana. Diduga ikan-ikan di Teluk Buyat sudah tercemar zat merkuri dan arsen dari hasil olahan tambang. Bila dirunut-runut rantai makanannya mungkin seperti ini; makhluk hidup yang berada di dasar laut, yang sudah terkontaminasi racun logam berat, dimakan oleh ikan yang hidup di perairan sebelah atasnya. Selan-jutnya, ikan tersebut dimangsa ikan lain. Terus demikian sampai akhirnya dimakan ikan yang hidup di bagian permukaan laut. Nah, ikan yang sudah terkontaminasi ini kemudian ditangkap oleh nelayan dan dikonsumsi oleh masyarakat. "Jadi diduga ada suatu siklus rangkaian makanan. Pencemaran yang awalnya berada dalam tubuh ikan lalu menjalar juga pada manusia," papar peneliti pada Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia (PPKUI) ini.

Sebetulnya, kata Budi, masuknya zat-zat beracun ke dalam tubuh manusia bisa melalui tiga kategori, yaitu:

1. Melalui kulit. Misalnya, seseorang mandi atau berendam di air yang sudah terkontaminasi zat logam berat. Bukti nyata bisa dilihat dengan timbulnya sejenis iritasi kulit pada "korban" di Teluk Buyat.

2. Melalui makanan. Memang efeknya tidak tampak dengan segera, tapi dalam jangka waktu yang lama. Misalnya, beberapa tahun kemudian seseorang yang sudah teracuni logam berat sering mengalami tremor, menderita tumor, kram, mengalami kegilaan, bahkan sampai meninggal.
3. Melalui pernapasan. Dalam kasus ini, asap logam merkuri yang sengaja dibakar oleh penambang untuk memisahkan emas dan pasir bisa terisap dan akhirnya meracuni tubuh.

SUDAH SERING DITELITI

Menurut Budi, sudah banyak penelitian yang mencoba mengungkap bahwa kasus tersebut betul-betul dikarenakan pencemaran logam berat dari limbah pertambangan. "Walau penelitian belum dapat membuktikan sepenuhnya bahwa kasus tersebut akibat pencemaran merkuri. Namun, ada indikasi pasti mengenai pencemaran logam berat di sana. Yang belum diketahui apakah sumber pencemarannya berasal dari penamba-ngan rakyat atau Newmont," kata Budi yang juga mengajar di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UI.

Seperti dikatakan Jull Takalinang, Koordinator Program Yayasan Suara Nurani, sebuah LSM di Sulawesi Utara, sudah banyak penelitian yang dilakukan untuk membuktikan bahwa masyarakat Teluk Buyat mengalami sakit karena pencemaran limbah tambang. Misalnya penelitian yang dilakukan di Speciality Laboratories, Santa Monica Amerika. Hasilnya ternyata menunjukkan bahwa unsur logam berat arsen dan merkuri telah terakumulasi dalam tubuh masyarakat Teluk Buyat. Contoh konkretnya, dari 20 sampling yang diteliti, 16 orang dinyatakan memiliki konsentrasi arsen dalam darah yang melebihi ambang batas aman (di atas 11 mcg/L). Sementara dari sampling tersebut, ditemukan 14 orang memiliki konsentrasi merkuri dalam darah yang sudah berada di atas ambang batas aman (di atas 5 mcg/L).

"Jadi sebenarnya bukti-buktinya sudah jelas, tapi selalu saja disangkal dengan mengatakan bahwa Newmont sudah sesuai prosedur. Bantahan bahwa mereka tak bersalah selalu ada. Malahan, mereka menuduh penyakit ini didapat akibat kebiasaan buruk masyarakat nelayan yang menangkap ikan dengan menggunakan bom sehingga biota laut tercemar. Lha, dari mana mereka bisa membuat bom atau dari mana mereka punya uang buat beli bom. Mereka, kan, golongan orang tak mampu."

Masalahnya lagi, berbagai penelitian yang sudah dilakukan selama ini tidak atau belum ditindaklanjutan oleh pihak-pihak berwenang, dalam hal ini pemerintah. Hasil studi sebenarnya sudah sering dilaporkan tapi mungkin disimpan begitu saja. Alhasil, kasus ini seolah-olah hilang ditelan bumi. Sekali lagi, kalaupun ada pihak-pihak seperti Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang mengadukan atau menunjukkan penelitan bahwa PT Newmont-lah biang keladinya, tentu selalu dibantah atau disangkal. Padahal, kata Budi, kalau kasus itu muncul tentu harusnya dipertanyakan. "Apakah misalnya pembuangan limbah tailingnya selama ini sudah tepat?"
Masih menurut Budi, ada yang menyebutkan bahwa dengan penempatan limbah tambang di kedalaman 82 meter, seperti yang dilakukan Newmont, sebenarnya sudah aman. Tapi, ada juga teori yang menyebutkan bahwa baru dikatakan aman jika dibuang pada kedalaman 200 meter. "Jadi untuk hal yang ini saja konsepnya sudah berbeda-beda."

Namun, kasus yang muncul di Teluk Buyat ini masih perlu dipastikan apakah sudah termasuk keracunan logam berat atau belum. Kategori keracunan adalah jika angka bahan kimia dalam tubuh seseorang sudah melebihi angka atau ambang batas, seperti terbukti pada pemeriksaan sampling di Amerika. Makanya untuk membuktikannya warga di sekitar Teluk Buyat perlu menjalani serentetan pemeriksaan seperti tes darah, urin, rambut dan sebagainya.

DAMPAK MENGERIKAN

Dampak pencemaran logam berat dalam kategori stadium dini belum terlihat secara kasat mata. Baru bisa dibilang cukup berbahaya jika sudah terjadi gangguan kemampuan motorik (tungkai terasa lemas dan sulit menggerakkan tangan), gangguan verbal, bagian mulut seperti mati rasa, muncul gangguan pendengaran dan penglihatan menjadi kabur.

Pada tingkat yang makin parah, penderita penyakit minamata akan mengalami gangguan konsentrasi dan keseimbangan tubuh. Jika berjalan posisi tubuhnya selalu goyah, tak bisa lurus. Terjadi pula dermatitis pada kulit, hiperpigmentasi, bahkan sekujur badan menjadi bersisik. Akibatnya, kulit jadi melepuh lalu berubah menjadi berwarna hitam. Dampak selanjutnya, fungsi hati dan ginjal mengalami gangguan. Penderita juga akan sulit menelan, mengalami kelumpuhan, gangguan atau kerusakan otak, bahkan kematian.

Bagi ibu hamil, pencemaran berakibat buruk pada janin karena racun merkuri dapat menembus sawar plasenta sehingga bisa mengendap di bagian otak sang calon bayi. Kalau tak terjadi abortus, bayi akan dilahirkan cacat. Umpamanya mengalami gangguan perkembangan sistem saraf dan mengalami perlukaan pada otak. "Banyak ibu hamil di Teluk Buyat yang takut atau khawatir anaknya terlahir cacat, sampai-sampai ada yang berniat menggugurkan kandungannya," ungkap Jull.

Jull juga menyayangkan sikap dokter di Puskesmas Ratatotok yang selalu menyebut sakit yang diderita warga adalah penyakit biasa atau hanya penyakit yang sering dialami masyarakat pantai dan bisa disembuhkan. Padahal, kata dr. Jane, racun logam berat yang berada dalam tubuh tidak bisa dikeluarkan. Selama ini, pengobatan yang dilakukan sebatas simptomatik (hanya menurunkan gejala sakit). Tak mungkin sampai bisa mengobati yang sudah mengalami cacat.

"Saya tak tega melihatnya. Saya tak bisa berdiam diri. Kalau saya diam kejadian ini bisa terjadi di tempat lain karena ikan-ikan dari Teluk Buyat juga dijual ke tempat lain. Para penderita juga perlu segera ditangani. Bagaimanapun, daerah kampung nelayan juga berhak mendapatkan pelayanan kesehatan yang maksimal. Kalau didiamkan bisa terjadi genocide (pemusnahan penduduk di teluk Buyat, Red.)," papar dr. Jane.

MENGADU KE JAKARTA

Jull menyayangkan sikap pemerintah daerah, baik DPRD, gubernur dan dinas kesehatan setempat yang tetap menyangkal dan membantah terjadinya pencemaran di Teluk Buyat. "Ini cermin kelalaian pemerintah. Kalau memang peduli kami mengundang berbagai pihak untuk duduk bersama dan makan ikan bersama dari Teluk Buyat. Ini untuk membuktikan bahwa telah terjadi pencemaran di sana."

Selain mengundang para pejabat daerah untuk mengunjungi lokasi pencemaran, LSM di Sulawesi Utara juga memberanikan diri terbang ke Jakarta untuk mengadukan permasalahan ini pada pemerintah pusat. Maka sejak Senin (19/7) lalu, Yayasan Suara Nurani dan Yayasan Sahabat Perempuan dari Sulawesi Utara didukung juga oleh LBH Kesehatan Jakarta mendatangi Departemen Kesehatan, Kedutaan Besar Amerika, dan Mabes Polri. Respons yang muncul cukup positif. Depkes dan Mabes Polri berniat memperhatikan kasus ini dan akhirnya mengirimkan timnya untuk melakukan penelitian lebih lanjut.

Menurut Budi, jalan tengah terbaik saat ini adalah melakukan penelitian yang lebih komprehensif dengan membentuk tim projustisia. Dalam pelaksanaannya, Kementerian Lingkungan Hidup bersama FKM UI akan melakukan investigasi mengumpulkan bukti-bukti hukum. Secara konkret, di lapangan akan diambil sampel kesehatan masyarakat Teluk Buyat. Kemudian, mencari dan melacak lingkaran atau rangkaian kejadian pencemarannya.

Jika sudah ada hasilnya, akan dibahas dari sisi hukum. Apakah nanti cukup kuat untuk diajukan penuntutan dan siapa pihak yang akan dituntut. "Itulah jalan tengahnya. Kami tidak pro manapun dan tidak ada intervensi dari manapun. Justru kami ingin tahu dari mana sumbernya. Tentunya dengan mencari bukti-bukti akademis yang kuat. Kalau nanti dilakukan penuntutan, kami akan menjadi saksi ahli di pengadilan untuk menjelaskan rangkaiannya," tandas Budi.

Hilman Hilmansyah. Ilustrator: Pugoeh

6 KEBIASAAN BAYI YANG MASIH TERBAWA SAMPAI BATITA

6 KEBIASAAN BAYI YANG MASIH TERBAWA SAMPAI BATITA
Tiap tahapan perkembangan pastilah ada hal-hal baru yang dipelajari anak. Namun tak jarang kebiasaan-kebiasaan di tahap perkembangan sebelumnya masih terus terbawa. Contohnya kebiasaan-kebiasaan semasa bayi yang seringkali masih terbawa sampai anak berusia batita. Beberapa kebiasaan tersebut masih bisa dikategorikan normal, namun beberapa lainnya sudah harus diwaspadai. Seberapa jauh orang tua mencermati hal ini? "Yang terpenting, orang tua paham betul mana yang masih boleh dilakukan anak dan mana yang sebaiknya tidak," jelas Sani B. Hermawan, Psi., dari Yayasan Bina Ananda.

1. NGENYOT JARI, NGEMPENG DAN NGEDOT

Menurut teori psikoseksual yang dikemukakan Sigmund Freud, sejak bayi lahir sampai usia 18 bulan, anak mendapatkan kepuasaan melalui fase oral. Kepuasan itu didapat anak lewat sensasi di sekitar daerah mulutnya, baik itu berupa aktivitas makan, minum, ngedot, ngempeng, ngenyot jari dan sebagainya. Hal ini wajar karena semua anak pastilah melewati tahapan yang satu ini. Dikatakan tidak wajar bila selewat usia 18 bulan, anak masih mempertahankan kebiasaan-kebiasaan tersebut.

Upaya pencegahan tentu saja bisa dilakukan orang tua supaya anak tidak kebablasan dengan kebiasaan tersebut. Salah satunya dengan tidak membiasakan anak ngempeng dan ngenyot jari sejak bayi. Tapi kalau sudah telanjur terjadi, beberapa langkah berikut bisa dilakukan.
* Kenalkan cara minum menggunakan gelas.

* Jelaskan kebiasaannya itu dapat berakibat buruk. Seperti mengganggu pertumbuhan gigi, kuman bisa masuk ke dalam mulut kalau tangannya tidak bersih dan sebagainya.

* Mintalah anak memberikan dotnya pada anak yang kurang mampu. Atau karena sudah rusak maka minta anak untuk membuang sendiri dot-nya.

* Alihkan perhatiannya pada hal lain yang juga mendatangkan kepuasan. Contohnya dengan memperkenalkannya pada beberapa jenis mainan baru, bunyi-bunyian dan sebagainya.

* Kalau sudah diberi penjelasan, anak masih saja melanjutkan kebiasaan ngenyot jari, bisa saja orang tua mengakalinya dengan memberikan sesuatu yang pahit di jarinya. Namun lakukan hal ini sebagai upaya terakhir agar anak tidak merasa "ditipu" oleh orang tuanya sendiri.
Beberapa dampak buruk akan muncul bila anak dibiarkan lekat dengan kebiasaannya ini. Selain pertumbuhan giginya jadi tidak bagus, secara psikologis anak juga akan kehilangan rasa aman (secure feeling) bila meninggalkan kebiasaan yang sudah berubah menjadi kebutuhan ini. Padahal bila terus terbawa sampai besar, bukan tidak mungkin ia akan jadi bahan ejekan teman-temannya yang pada akhirnya akan berpengaruh pada pembentukan konsep dirinya.

2. NGOMPOL DAN PUP DI CELANA

Masih menurut Freud, di usia batita anak sedang memasuki fase anal. Anak akan mendapat kepuasan saat menahan BAK (buang air kecil) maupun BAB (buang air besar) sebelum melepaskannya. Untuk fase anal, sampai usia 3 tahun pun masih bisa dikategorikan wajar. Walau begitu, ketika anak sudah bisa duduk, orang tua sebaiknya mulai mengajarkan toilet training. Mungkin lebih mudah kalau diawali dengan latihan BAB di kloset, dibanding mengajari anak BAK. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua untuk menyetop kebiasaan BAK dan BAB di celana.

* Biasakan tiap bangun pagi segera mengajak anak BAK di kamar mandi.

* Tiap 3 jam sekali dudukkan anak di kloset, meski ia terlihat tidak kebelet BAK. Begitupun menjelang tidur malam atau kala terbangun. Meski mungkin saat itu anak belum ingin BAK, kebiasaan ini bisa membantunya tidak ngompol lagi.

* Jangan terbiasa menolerir kebiasaan anak BAB di celana yang akan membuat anak mendapat kepuasan/pleasure. Bila dari mimiknya anak terlihat mau BAB, segera angkat dan dudukkan di kloset. Sebab kalau dibiarkan saja BAB di celana, lama-kelamaan anak akan merasa keenakan dan akhirnya malah tidak bisa BAB di kloset.

* Waspadai juga anak yang sudah lama tidak ngompol, tapi kemudian mendadak ngompol lagi. Mungkin saja ada masalah psikologis yang sedang dialaminya, seperti traumatic event dan sejenisnya. Tapi kalau hanya sesekali dalam jangka waktu sekian lama tak perlu dikhawatirkan karena bisa jadi anak hanya kecapekan atau mengalami mimpi buruk. Lalu bagaimana cara orang tua bisa mendeteksi adanya gangguan psikologis yang berakibat ia ngompol lagi? Salah satunya kalau selama 6 bulan terakhir anak sudah tidak ngompol lagi namun kemudian secara berturut-turut mulai ngompol lagi, besar kemungkinan ia mengalami gangguan psikologis.

* Jangan anggap remeh kebiasaan anak BAK dan BAB di celana. Sebab masalah ini akan mendatangkan serangkaian dampak buruk kalau terus terbawa sampai tahapan usia selanjutnya. Dalam pergaulannya, sosialisasinya akan terganggu karena ia akan jadi bahan ledekan teman-temannya.

3. MEMAINKAN ALAT KELAMIN
Satu lagi kebiasaan bayi yang masih terbawa sampai batita menurut teori Freud adalah kenikmatan memainkan alat kelamin. Dalam bahasa psikologinya, tahapan ini diistilahkan sebagai fase phallic. Kebiasaan ini masih dianggap normal, bahkan sampai anak berusia balita. Walau dianggap normal, orang tua sebaiknya mengarahkan anak untuk tidak melakukannya. Beri pemahaman begitu anak bisa diajak berkomunikasi. Jelaskan bahwa kebiasaannya ini bisa menyebabkan alat kelaminnya terluka, lecet, kotor, bahkan infeksi bila ada kuman masuk. Anak perlu tahu kalau area di sekitar alat kelamin itu sangat sensitif.

Kalau cara tersebut tidak berhasil, maka orang tua bisa mengalihkannya dengan kegiatan lain yang juga bisa memberikannya kepuasan. Misalnya dengan mengajak anak bermain tetabuhan dan sebagainya. Tapi yang harus diingat, orang tua jangan panik bila menemukan anak sedang melakukan kegiatan ini. Jangan marahi anak apalagi bila disertai ancaman, karena tiap anak pasti mengalami fase ini.

Menjadi masalah bila kebiasaan ini terus terbawa sampai anak besar. Selain lingkungan akan menganggapnya melakukan tindakan tak pantas, anak pun sebaiknya tahu bahwa kepuasan/kesenangannya bisa diperoleh dengan cara lain, selain dengan memainkan alat kelamin.

4. NGECES

Ngeces atau mengeluarkan air liur tanpa kontrol lazim dilakukan bayi karena kemampuan mereka mengontrol air liur memang belum sempurna. Apalagi pada anak yang memang produksi air liurnya relatif banyak, hingga dalam tenggang waktu sebentar saja air liurnya menetes tanpa disadarinya. Kebiasaan ini masih dikategorikan wajar di usia batita awal, atau sampai usia 1,5 tahunan. Setelah usia itu, orang tua sudah harus aware karena biasanya batita di usia tersebut sudah bisa diajak berkomunikasi dan melakukan imitasi atau peniruan pada orang dewasa.

Melalui komunikasi orang tua bisa menginstruksikan anak, misalnya, "Hayo, Adek ngeces lagi ya. Coba dilap dong." Pada fase imitasi, orang tua dapat menyontohkan bagaimana menelan dan menghapus air liurnya. Melalui latihan terus-menerus, diharapkan anak bisa belajar bagaimana mengelola produksi air liurnya. Memang sih proses ini butuh waktu alias tidak bisa bersifat instan. Setelah berhasil pun, orang tua tetap harus memperhatikan dan mengingatkannya. Semisal saat anak sedang asyik melakukan sesuatu, tanpa disadari ia ngeces lagi, padahal sebelumnya kebiasaan ini sudah ditinggalkannya.
Kalau hanya sesekali ngeces karena ada sesuatu yang mengasyikkannya masih bisa dikategorikan wajar. Tapi bisa dibilang tidak wajar bila sampai usia 3 tahunan anak belum lepas dari kebiasaan ini. "Sebaiknya dicek ke dokter, siapa tahu memang ada kelainan."

5. NANGIS MINTA SESUATU

Menangis adalah suatu hal yang wajar. Namun menangis di usia batita bisa dikategorikan tidak wajar bila masih digunakan sebagai cara berkomunikasi.

Di usia 2 tahunan, anak seharusnya sudah bisa berkomunikasi dengan orang lain. Saat haus, lapar, sakit, dan sebagainya, anak seharusnya sudah bisa mengungkapkannya tanpa menangis. Jadi di usia tersebut kalau tangis masih digunakan sebagai cara untuk menarik perhatian sekelilingnya, itu dapat dikategorikan tidak wajar. Beberapa hal berikut perlu dilakukan orang tua sehubungan dengan kebiasaan anak ini:
* Tekankan pada anak untuk mengungkapkan apa yang diinginkannya, tapi tidak dengan tangis. Kalau haus, anak harus bilang haus untuk minta minum, bukannya dengan menangis atau merengek.

* Orang tua harus tegas, tangisan hanya boleh digunakan untuk mengungkapkan perasaan sedih, sakit, melepaskan emosi dan sejenisnya. Namun tangis bukan cara berkomunikasi untuk mendapatkan sesuatu seperti halnya yang dilakukan bayi.

* Konsistensi menjadi penting di sini. Sekali orang tua mengatakan tidak, besok lagi untuk tangisan yang sama orang tua harus tetap mengatakan tidak yang tentu saja harus disertai penjelasan. Sekali saja orang tua tidak konsisten, anak akan belajar memanfaatkan kesempatan dan mencari-cari celah.

* Reward dan punishment juga bisa digunakan dalam kasus ini. Bila anak sudah bisa minta sesuatu tanpa menangis, orang tua bisa melontarkan pujian. Sedangkan bila anak kembali menangis untuk minta sesuatu, anak bisa "dihukum" sesuai kesepakatan yang dibuat bersama.
6. KELEKATAN YANG BERLEBIHAN

Kelekatan bayi dengan orang tuanya, terutama ibu adalah suatu hal yang wajar. Di usia ini anak belum bisa menerima keberadaan orang lain karena tidak aman (insecure) bila tidak bersama orang tua, atau significant other seperti pengasuh, kakek-nenek, om-tante yang sering dilihatnya.

Menurut teori Erik Erikson, pada masa ini sedang terbentuk trust and distrust terhadap lingkungan. Namun bila kelekatan ini terus dibawa sampai batita, menjadi tidak wajar lagi. Saat anak sudah bisa berkomunikasi dengan orang lain, maka pada saat itu pula anak mestinya sudah belajar bahwa lingkungannya itu tidak hanya orang tua, pengasuh dan kakek/neneknya, melainkan ada juga orang lain di luar mereka.

Anak yang mempunyai kelekatan berlebihan dengan orang tuanya, akan "takut" berhadapan dengan orang lain. Padahal ini seharusnya tidak terjadi. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan orang tua untuk menyiasatinya:
* Mulai kenalkan anak pada lingkungan yang lebih luas, bahwa dunia ini tidak hanya berisi orang tua dan significant other lainnya.

* Ajak anak bermain tanpa perlu ada attachment langsung.

* Ajarkan anak untuk memberikan salam pada orang-orang yang ditemuinya. Dengan begitu anak bisa melihat bahwa orang lain pun tidak "berbahaya" baginya.

* Minta anak menjawab pertanyaan orang lain yang diajukan padanya agar akan tumbuh perasaan trust.

* Bisa juga sesekali anak ditinggal untuk waktu yang agak lama. Dengan begitu anak akan belajar, kalaupun ditinggal orang tuanya, pasti nanti akan kembali lagi.

Bila dibiarkan saja, kelekatan yang berlebihan akan merusak kemampuan sosialisasi anak. Anak jadi tidak berani bergaul dengan lingkungan yang lebih luas dan ke depannya kehidupan sosialnya pun akan terganggu.

TIPS UNTUK ORANG TUA

Beberapa hal berikut disarankan Sani sehubungan dengan kebiasaan bayi yang masih terbawa sampai batita.

* Begitu orang tua tahu batasan usia dimana anak harusnya sudah mulai belajar hal-hal tertentu, harusnya orang tua mulai aware. Makin dini usia anak saat diajarkan, makin kecil kemungkinan kebiasaan tersebut terbawa sampai batita.

* Konsistensi adalah kunci dalam mengajarkan segala sesuatu pada anak. Sekali orang tua mengambil sikap A, seharusnya sikap itu dipertahankan saat menghadapi keadaan yang sama.

* Beri penguatan kala anak berhasil melakukan perilaku yang diajarkan. Bila perlu beri reward atau pujian, sehingga anak merasa yakin bahwa perbuatannya benar.

* Jangan bosan memberi penjelasan mengapa ia harus melakukan ini dan itu. Jangan hanya sekali memberitahu, setelahnya hanya mengatakan, "Kemarin Mama sudah bilang. Adek kok enggak ngerti juga?" Ingat kemampuan anak usia ini mengingat sesuatu masih terbatas.

* Orang tua harus yakin dengan dirinya sendiri bahwa apa yang diajarkannya pada anak akan mendatangkan manfaat. Ingat, orang tua adalah fasilitator yang membentuk tingkah laku anak.
Marfuah Panji Astuti. Foto: Iman/nakita


MENDAMPINGI ISTRI BERSALIN, SEBUAH TANTANGAN

MENDAMPINGI ISTRI BERSALIN, SEBUAH TANTANGAN
Kalau Anda tipe suami yang gampang panik, enggak tegaan, atau tidak tahan melihat darah, sebaiknya tidak usah memaksakan diri menemani istri di kamar bersalin.

Sejak jauh-jauh hari, Lala, istri dari pelakon sinetron Gunawan, mewanti-wanti agar suaminya menemaninya saat persalinan berlangsung. Untunglah proses persalinan yang melalui tindakan sesar itu berjalan lancar. Walau Gunawan sendiri mengaku sempat pusing saat melihat banyak darah dan bau amisnya yang merebak saat itu, toh ia gigih bertahan demi keinginan sang istri. Usahanya tidak sia-sia karena Lala menjadi lebih tenang dalam genggaman tangannya selama proses persalinan berlangsung.

Suami menemani istri bersalin tampaknya mulai menjadi kebutuhan bagi banyak pasangan saat ini. Beberapa artis melakukannya. Selain Gunawan, juga ada Tora Sudiro. Malah, ada cerita lucu di balik proses pendampingannya itu. Saking gugupnya, Tora malah menggenggam tangan suster dan bukan tangan istrinya. Sophie Navita pun dengan bangga bercerita kalau suaminya, Pongky, setia mendampinginya di kamar bersalin. Namun karena tahu suaminya suka enggak tegaan, Sophie sebelumnya sudah memberi peringatan agar Pongky jangan pingsan saat persalinan berlangsung.
BUTUH DITEMANI

Kalau mau diteruskan, tentu banyak cerita unik di balik pendampingan suami saat istri bersalin. Apa pun reaksi suami saat itu, entah gugup, mual atau bahkan hampir pingsan, niatnya mesti dihargai dan patut diacungi jempol. Lagi pula menurut Masera Idul Adha, Psi., tren menemani istri bersalin berkaitan dengan semakin sadarnya para suami untuk menjalin kelekatan dengan anak. Merujuk pada teori yang diberikan para ahli perkembangan anak, kelekatan orang tua dan anak mesti dijalin sedini mungkin bahkan sejak anak di kandungan.

Jadi tak heran bila suami zaman sekarang rajin mengajak bayi dalam kandungan istrinya bercakap-cakap. Termasuk menemani istri bersalin karena mereka tak mau melepaskan momen berharga saat sang buah hati dilahirkan. "Zaman dulu, suami dianggap tabu bila melihat istri melahirkan.Tetapi zaman sudah berubah. Para suami semakin sadar akan perannya terhadap perkembangan anak. Ini tentu berkat arus informasi yang semakin deras," ujar wanita yang akrab disapa Sera.

Lagi pula secara psikologis, istri memang sangat membutuhkan pendampingan suami selama proses persalinan. Bukan rahasia lagi kalau proses melahirkan layaknya sebuah pertarungan hidup dan mati bagi ibu. Rasa cemas, panik, dan takut juga kerap melanda, "Apakah anakku akan terlahir sehat, apakah aku akan selamat, apakah aku akan kuat mengejan, apakah aku..." Belum lagi, semua ketidakpastian itu harus bercampur dengan rasa sakit yang luar biasa.

Tentu saja reaksi setiap ibu kala bersalin bersifat sangat individual. Tergantung pada daya tahannya terhadap rasa sakit dan mental. Ibu yang siap mental akan menjalani persalinan dengan tenang. Tetapi bagi yang tidak, responsnya bisa macam-macam, ada yang meneriakkan kata-kata kasar, menjerit-jerit, menangis histeris, dan sebagainya. Namun bukan berarti ibu yang siap mental tidak membutuhkan pendampingan, karena hampir semua ibu pasti ingin ditemani saat melahirkan sang buah hati.

Lantaran itu Sera melihat pentingnya komunikasi antarpasangan. Bila istri memang menginginkan suaminya hadir di kamar bersalin, bicarakan hal ini jauh-jauh hari. Dari situ suami hendaknya mulai mencari informasi tentang bagaimana proses persalinan itu. Informasi bisa diperoleh dari buku, internet, majalah, tabloid, juga saat berkonsultasi pada dokter. Lalu diskusikan dengan istri apa saja yang perlu dipersiapkan dan bisa dilakukan suami saat itu.

BILA TAK BISA MENEMANI

Bila karena suatu hal, suami tidak bisa mendampingi istri bersalin, Sera mengimbau agar sang istri tidak terlalu bersedih dan kecewa berkepanjangan. Apa boleh buat jika situasi dan kondisi suami memang tidak memungkinkan. Di antaranya seperti ini:

* Suami tak siap secara mental.

Saran Sera, para suami hendaknya mengenali dirinya sendiri dulu; apakah kira-kira kuat mendampingi istri bersalin atau tidak. Umumnya, suami yang tidak tegaan, lekas panik saat melihat istri kesakitan, atau tak tahan bila harus melihat darah yang keluar saat persalinan bukan orang yang tepat untuk menjadi pendamping di ruang bersalin. Melihat itu semua, suami bisa mengalami pusing-pusing lalu pingsan. Bukannya membantu, kehadiran suami malah akan merepotkan tim medis yang tengah sibuk menangani istri.

Tak perlu berkecil hati. Menurut Sera, pendampingan suami tak selalu harus dilakukan selama persalinan berlangsung. Sebelum persalinan atau sesudah persalinan, keberadaan suami di samping istri akan sama berharganya. "Boleh-boleh saja suami menemani istri sebentar, lalu saat proses bersalin dimulai kehadirannya digantikan oleh kerabat lain, seperti ibu," ujar Sera.

Setelah persalinan usai, suami bisa menemani istri kembali untuk memberikan kenyamanan, mempersiapkan keperluan istri, dan lainnya. "Setidaknya dengan cara ini istri juga tidak merasa kecewa dan sedih karena suami tetap memberikan perhatiannya."

* Tak diizinkan pihak rumah sakit

Beberapa rumah sakit tidak mengizinkan kehadiran pendamping selain petugas medis bagi ibu yang menjalani proses persalinan, baik normal maupun sesar. Beberapa alasan yang diajukan adalah kehadiran pendamping dapat mengganggu konsentrasi petugas medis yang tengah membantu proses persalinan, keleluasaan gerak di ruang bersalin jadi terbatas bila tempatnya memang tidak luas, dan kesterilan ruang operasi pun menjadi berkurang dengan hadirnya orang luar.

* Suami sedang dinas

Apalagi bila suami sedang dinas ke tempat yang jauh sehingga tak memungkinkan pulang menemani istri bersalin. Tentu istri harus memaklumi kondisi ini. Kalaupun tak ada suami setidaknya ada anggota keluarga lain seperti ibu yang dapat menemani. Momen persalinan pun dapat difilmkan dengan kamera video, sehingga saat kembali dari dinas suami bisa melihat proses kelahiran buah hatinya.

MANFAAT DITEMANI SUAMI

Namun bagi suami yang siap fisik dan mentalnya, mengapa tidak mendampingi istri tercinta saat bersalin. Manfaatnya tidak sedikit lo. Psikolog dari RS Fatmawati, Jakarta ini menuturkan beberapa di antaranya:

* Memberi rasa tenang dan penguat secara psikis pada istri

Suami adalah orang terdekat yang dapat memberikan rasa aman dan tenang yang diharapkan istri dalam menjalani proses persalinan itu. Di tengah kondisi yang tidak nyaman, istri memerlukan pegangan, dukungan, dan semangat untuk mengurangi kecemasan, ketakutan, dan kepanikannya.

* Selalu ada bila dibutuhkan

Dengan berada di sisi istri, suami siap membantu apa yang dibutuhkan istri; dari mengambilkan minum hingga melap keringatnya. Ketika ada suatu tindakan dokter yang memerlukan keputusan keluarga, seperti tindakan vakum atau operasi, akan ada suami yang akan memberikan persetujuan atau tidak segera.

* Kedekatan emosi suami-istri bertambah

Suami akan melihat sendiri perjuangan antara hidup dan mati sang istri saat melahirkan anak. Begitu susahnya melahirkan membuatnya akan bertambah sayang pada istrinya.

* Menumbuhkan naluri kebapakan

Tapi bukan jaminan pasti bahwa kehadiran ayah saat ibu melahirkan akan langsung mendekatkan ayah dan anak. Sebab banyak faktor lain. Namun setidaknya perhatian yang diberikan ayah saat kelahiran sang buah hati sudah bisa menumbuhkan keterikatan dengan anaknya. Bisa dikatakan itu merupakan modal awal yang perlu diteruskan dengan ikutnya ayah terlibat dalam pengasuhan si kecil.
* Suami akan lebih menghargai istri

Melihat pengorbanan istri saat persalinan suami akan dapat lebih menghargai istrinya dan menjaga perilakunya. Karena dia akan mengingat bagaimana besarnya pengorbanan sang istri.

YANG MESTI DICERMATI

Agar pendampingan suami saat istri bersalin berjalan mulus, ada beberapa hal yang perlu dicermati, seperti:

* Siap mental. Semakin banyak informasi yang didapat suami soal bagaimana proses persalinan berlangsung, semakin baik karena suami akan mendapatkan gambaran sehingga mentalnya lebih siap. Pahami kondisi pasangan yang tengah cemas, takut dan kesakitan.

* Bersikap tenang. Hindari perasaan terlalu cemas atau panik dan jangan terpancing emosi dengan reaksi dan perlakuan istri pada Anda.

* Genggam erat tangan istri, lap keringatnya, beri air minum dan keperluan lain yang diinginkannya.

* Terima apa pun sikap dan reaksi istri. Pahami bahwa respons istri yang tak mengenakkan, seperti berkata kasar, menggigit tangan suami, memukul atau lainnya, bukan karena istri membenci suami melainkan reaksi dari kesakitan yang dirasakannya.

* Beri semangat dan dukungan mental dengan tidak banyak memberi nasehat. Apalagi nasehat seperti, "Sudah tenang saja Ma. Enggak apa-apa kok." Dalam keadaan kesakitan, istri akan merasa kesal mendengar omongan klise semacam itu.

* Bimbing istri dengan mengingatkan gerakan senam hamilnya, "Ayo, Ma tarik napas. Keluarkan." Atau bimbing istri mengucapkan doa agar tenang.

* Jangan memberikan nasehat atau kata-kata yang membuat istri makin panik. Misal, "Jangan panik dulu, Ma. Sakitnya ini belum seberapa. Nanti akan ada sakit yang lebih hebat lagi."

* Dahulukan kebutuhan istri ketimbang kepentingan dokumentasi. Bisa saja, kehadiran suami di ruang bersalin adalah untuk membuat dokumentasi foto atau film kelahiran si kecil. Namun, jika nyatanya istri merasa tidak nyaman dan membutuhkan dukungan yang intens dari suami, lupakan dulu urusan dokumentasi ini. Sebagai jalan tengah, mungkin bisa dicari petugas medis yang bersedia membantu menjepretkan kamera atau merekam gambar proses persalinan sementara ayah tetap mendampingi ibu.

USAI PERSALINAN

Usai persalinan baik suami dan istri hendaknya saling bersikap terbuka. Sesuatu yang dirasa tidak menyenangkan yang diterima dari pasangan saat proses persalinan hendaknya diungkapkan semua.

Memendam perasaan hanya akan membuat masalah jadi berlarut-larut sehingga bisa berpengaruh pada hubungan keduanya. "Bisa saja baik suami maupun istri menyimpan perasaan, seperti kecewa, sedih, dan dendam akibat kejadian di tengah proses persalinan. Tapi karena tidak dibicarakan langsung maka kekecewaan itu bisa terungkit saat suami istri bertengkar. Ini tentu tidak perlu terjadi kalau komunikasi antara keduanya berjalan baik," kata Sera.

Kalau perlu mintalah maaf setelah masa-masa menegangkan persalinan berlalu. "Maafin aku ya Mas, waktu itu aku bicara kasar. Padahal aku enggak bermaksud begitu lo." Atau, "Papa kok tadi enggak ngingetin Mama soal senam hamil sih?"

"Maaf deh Ma. Soalnya Papa tadi juga gugup melihat Mama kesakitan seperti itu!" Apa pun perasaan saat itu, entah sedih, kecewa, tak nyaman, tidak merasa didukung, komunikasikan dengan pasangan. Menurut Sera, itu merupakan jalan terbaik.
Dedeh Kurniasih. Foto: Dok. nakita


SAJIAN LEZAT UNTUK PENDERITA DIARE

SAJIAN LEZAT UNTUK PENDERITA DIARE


Anak dapat kehilangan banyak cairan saat diare. Asupan makanan yang kurang saat terserang diare dapat menyebabkan gangguan gizi. Selain itu, bisa juga terjadi hipoglikemia atau kadar gula darah turun di bawah normal. Untuk mencegahnya, buatlah masakan yang merangsang nafsu makan anak. Diharapkan selera makannya bisa dipertahankan.

Utami Sri Rayahu

STEIK DAGING CINCANG
Bahan:

* 500 gr daging giling

* 4 lembar roti tawar, sobek-sobek

* 1 sdm susu bubuk, larutkan dalam 200cc air

* 4 sdm margarin

* 1 butir telur ayam

* 1 sdt merica bubuk

* 1/2 sdt pala bubuk

* 1 sdt garam (secukupnya)

* 4 siung bawang putih, haluskan

* 400 cc kaldu daging

* 2 sdm kecap manis

Pelengkap:

*Pure kentang

* Stup jagung manis, buncis, dan wortel

Cara membuat :

- Rendam roti dalam susu dan hancurkan.

- Campur daging giling, roti, telur, dan bumbu, kecuali kaldu dan kecap. Aduk rata dan bentuk bulat pipih.

- Panaskan mentega, goreng daging hingga matang.

Tambahkan kaldu dan kecap. Masak hingga kental. Angkat.

- Sajikan steik daging cincang dengan stup sayuran dan pure kentang.

Untuk 6 porsi

Nilai gizi per porsi:
Energi: 215 Kal
Protein: 19,1 gr
Lemak: 11,6 gr
Karbohidrat: 8,9 gr


TEH BEREMPAH
Bahan:

* 10 sdt teh hitam

* 1.000 cc air

* 5 sdm gula pasir

* sebatang kayu manis

* 2 butir cengkih

* 1 bunga lawang

* 2 lembar daun pandan

* 2 lembar daun jeruk purut

* sebatang serai, memarkan

Cara membuat:

- Rebus air hingga mendidih. Ambil 750 cc dan masukkan teh, biarkan sejenak. Sisihkan.
- Masukkan bahan lain ke dalam sisa air, rebus terus hingga kental.

- Campur rebusan rempah dan cairan teh. Aduk rata dan saring.

- Sajikan selagi panas .

Untuk 2 porsi

Nilai gizi per porsi:
Energi: 183 Kal
Protein: 4,9 gr
Lemak: 0,1 gr
Karbohidrat: 40,


ONTBIJTKOEK
Bahan:

* 200 gr tepung terigu

* 10 butir telur ayam

* 250 gr gula palem

* 2 sdt kayu manis bubuk

* 2 butir cengkih, haluskan

* 1/2 sdt pala bubuk

* 1 sdt vanili bubuk

* 1 sdt ovalet

Cara membuat:

- Kocok telur dan gula palem hingga mengembang. Tambahkan ovalet, kocok terus.

- Campur tepung terigu dan bumbu, aduk rata. Masukkan ke dalam kocokan telur sedikit demi sedikit. Aduk rata.

- Tuang ke dalam cetakan yang telah dioles mentega dan ditaburi tepung terigu.

- Panaskan oven dan panggang hingga matang. Angkat.

- Sajikan sebagai hidangan selingan.

Untuk 10 porsi

NILAI GIZI PER 100 GRAM:
Energi: 330 Kal
Protein: 4,0 gr
Lemak: 1,0 gr
Karbohidrat: 73,8 gr


ORAK ARIK SUSU
Bahan:

* 4 butir telur ayam

* 2 sdm susu bubuk

* 1 sdm kaldu daging

* 1 sdt garam

* 1 sdm margarin

Cara membuat:

- Kocok telur hingga rata. Masukkan susu, kaldu, dan garam. Kocok hingga rata.

- Panaskan mentega di wajan datar antilengket, masukkan kocokan telur. Aduk hingga matang.

- Sajikan orak arik susu dengan bubur.

NILAI GIZI PER PORSI:
Energi: 145 kal
Protein: 7,7 gr
Lemak: 10,9 gr
Karbohidrat: 2,2 gr


BERIKUT beberapa tips bagi penderita diare yang disampaikan Hindah Muaris, ahli teknologi pangan dan gizi yang mendalami seni kuliner.

1. Pola makan sebaiknya diatur.
2. Cairan harus cukup untuk mengganti cairan yang hilang, baik
melalui muntah maupun diare.
3. Jangan memberikan makanan yang kandungan seratnya tinggi dan
harus cukup energi, protein, vitamin dan mineral.
4. Berikan makanan dan minuman dalam keadaan hangat, tidak panas
atau terlalu dingin.
5. Air tajin juga baik untuk diberikan kepada anak diare karena cepat dicerna, juga mengandung kadar glukosa cukup tinggi yang akan mempermudah penyerapan elektrolit. Selain itu dua macam poliglukosa dalam tepung tajin dapat menyebabkan feses lebih padat. Keuntungan lainnya, kandungan proteinnya cukup lumayan dan dapat membantu proses penyembuhan.